KAMPUNG-KU


PANORAMA PESAWAHANDesa Puspasari kecamatan Pedes kabupaten Karawang ini merupakan sebuah kampung/dusun yang terletak di pesisir Karawang, yang merupakan daerah pesawahan serta penduduknya berasal dari berbagai daerah dari pulau jawa. diantaranya, cirebon, brebes, bayumas, Bogor, Sumedang, jawa tengah dan Jawa timur, Sehingga budaya serta bahasa kesehariannya berbeda dengan kampung-kampung sekitar yang masih satu wilayah.
Bahasa yang dipakai yaitu bahasa jawa cirebon, sedangkan wilayah kecamatan pedes pada umumnya memakai bahasa sunda. Adapun budaya yang masih kentara di kampung ini yaitu budaya sumedangan seperti terlihat dari penyematan nama yang diberikan yaitu suka diberi gelar Raden, Nyimas ataupun Aang pada awal nama serta tradisi Jajalukan (permintaan berupa Emas murni)sipengantin perempuan pada pengantin laki-laki pada resepsi pernikahan masih dilaksanakan.

Desa Puspasari dahulu bernama Kampung Bunder, konon (mitos) katanya di kampung ini ada barang antik berupa meja yang terbuat dari batu granit/marmer berbentuk Bundar dan batu tersebut terdapat dikali/sungai cisoga dimana sungai itu letaknya membelah kampung itu menjadi dua, hanya waktu atau hari-hari tertentu saja meja Bundar itu bisa terlihat dan itu pun yang dapat melihatnya bukan sembarang orang.
Di kampung itu juga akan kita jumpai peninggalan kerajaan Tarumanagarapada abad 100 – 400 M, berupa tumpukan Bata merah berukuran besar berbentuk stuva candi yang diatasnya tertancap batu besar berbentuk persegi panjang,… kalau di lihat dari kejauhan seperti kuburan suku china raksasa.

Pernah di areal situs tersebut pada tahun 1982 seorang warga desa itu (Gombar namanya) menemukan emas murni dalam guci yang harganya miliaran rupiah, emas tersebut sekarang sudah berada di Musium Indonesia di Jakarta, areal tersebut sekarang sudah dijadikan cagar budaya oleh pemerintah daerah Karawang hanya masih belum terawat serta terkesan di biarkan berserakan….sungguh Ironis…(seakan tidak bangga atas peninggalan leluhurnya)
Kampung Bunder berubah menjadi sebuah desa serta memisahkan diri dari desa induknya (Desa Pedes sekarang Desa Payungsari-Red) pada tahun 1984, yang dikepalai oleh penduduk asli desa tersebut (H.Karyono Hikmah selama 8 tahun) dipilih secara definitive pada pemilihan langsung pada tahun 1984. Kemudian di ganti oleh M.Wirhasan selama 8 tahun, Rudi Hartono (2002-2008) selama 6 tahun dan sekarang oleh H.Eman Sulaeman(periode 2008 – 2014).

Penghasilan penduduk desa Puspasari mayoritas petani penggarap dan ada sebagian Petani pemilik, serta banyak pula yang penghidupannya mengandalkan berdagang Pindang cue, pengrajin pandai besi, home industri makanan ringan seperti Opak, ranginan, kue bolu dan penjual sayuran.
Banyak cagar budaya yang belum bisa di manfaatkan secara maksimal di Desa ini, seperti Makam panjang (konon makam senopati dari mataram) penduduk disini biasa memanggilnya dengan sebutan EYANG PUSPARAGA dan MBAH KUNCUNG RAKSA yang berada di pemakaman umum, Sumur awisan serta tanah raja yang sekarang di pergunakan bangunan sekolah dasar Puspasari I.
 Beraneka budaya serta banyaknya bahasa yang dipakai masarakat disini sungguh menggelitik untuk di ungkap lebih jelas lagi, mungkin hanya waktu serta kesadaran kita sebagai generasi serta tentunya wawasan dan SDM yang sekarang kita harapkan untuk memajukan desa tersebut dari kungkungan misteri yang menyelimuti bak kabut pekat, penulis yakin suatu saat nanti, pasti ada putra / putri daerah yang tergerak hatinya untuk lebih dalam dan jelas membuka tambir Misteri Desa Puspasari.
Ditulis Oleh : Encum Nurhidayat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s