ADAPTASI TUHAN DALAM BAHASA SUNDA

Posted: 29 Maret 2012 in RELIGI

Tuhan dalam bahasa Sunda disebut Pangeran atau Gusti. Ketuhanan tampaknya tidak dapat diterjemahkan menjadi kapangeranan atau kagustian karena faktor rasa bahasa. Terjemahan Ketuhanan Yang Maha Esa secara per kata bisa
Kapangeranan Anu Tunggal, tetapi rasa bahasa Sunda di frasa itu janggal karena ketuhanan itu mengandung makna kepercayaan kepada Tuhan. Adapun kapangeranan menunjuk pada sifat yang dimiliki Pangeran.

Demikian halnya bila diterjemahkan dengan Kapercayaan ka Pangeran Anu Tunggal, frasa itu tampak tidak mengena dengan rasa bahasa Sunda, salah satunya karena tunggal juga terdapat dalam bahasa Indonesia.

Sejarah kata Tuhan sendiri konon berasal dari upaya menerjemahkan God dan Lord dalam Injil ke dalam bahasa Indonesia di masa kolonial. Kata itu aslinya adalah Tuan, yang karena faktor dialek mendapat sisipan (h).

Sekarang kata Tuan hanya dipakai pada bon toko dan kartu berobat. Monoteis
Edi S Ekadjati dalam Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah (1995) mengungkapkan tentang agama dan kepercayaan orang Kanekes yang disebut agama Sunda Wiwitan atau Sunda Asli.

Tuhan atau sistem kekuasaan tertinggi dalam agama Sunda Wiwitan berada pada Tuhan yang disebut sesuai dengan sifatnya, Sang Hyang Keresa
(Yang Maha Kuasa), Nu Ngersakeun (Yang Maha Berkehendak), Batara Jagat (Penguasa Alam), Batara Seda Niskala (Yang Gaib), dan Batara Tunggal.
Sebutan untuk Tuhan yang senada dengan Tuhan Yang Maha Esa hanya Batara Tunggal.

Yang terakhir ini, meskipun bermakna esa, tentu sulit diterima dan tidak cukup memadai sebagai versi Sunda sekarang untuk Tuhan Yang Maha Esa karena sebagian besar orang Sunda menganut Islam. Tuhan didekati orang Sunda tidak dengan bilangan, tetapi dengan sifat-sifat seperti Nu Welas Asih (Maha Pengasih dan Penyayang), sedang sisi kekuasaan terungkap dalam Nu
Maha Kawasa (Yang Maha Kuasa), Nu Murbeng Alam (Yang Menguasai Alam).

Bahwa Tuhan itu Maha Esa, satu atau tunggal, dalam pandangan religiusitas orang Sunda tampaknya sudah merupakan sifat built-in atau nature (fitrah) Tuhan hingga tidak lagi menjadi urusan penyebutan.  Monoteisme sudah merupakan landasan beragama orang Sunda sejak dahulu kala ketika karuhun orang Sunda menganut agama Sunda Wiwitan atau agama Sunda Asli.

Semua dewa dalam konsep agama Hindu (Brahma, Wisnu, Syiwa, Indra, Yama, dan lain-lain) tunduk kepada Batara Seda Niskala (Edi S Ekadjati, 1995:73). Konsep dewa dari India disesuaikan dengan sistem kepercayaan lokal yang monoteis. Akar monoteisme itu sering dijadikan alasan logis bila orang mempertanyakan proses masuknya Islam ke Tatar Sunda yang relatif mudah.

Dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, wilayah Tatar Sunda dahulu hanya perlu satu, yaitu Sunan Gunung Jati. Meskipun bernada gurauan, kenyataan ini menunjukkan bahwa bagi orang Sunda, hal pokok konsep ketuhanan adalah monoteis.

Ketuhanan Yang Maha Esa adalah konsep kepercayaan bangsa Indonesia terhadap Tuhan yang monoteis. Dalam hal penerjemahan ke dalam bahasa Sunda, yang relatif tetap dengan katuhanan dan esa, tampaknya sebagai tanda
keikutsertaan Sunda dalam syahadat monoteis nasional tersebut.

Selamat datang Ketuhanan Yang Maha Esa ke dalam bahasa Sunda!

 

 

JAMALUDIN WIARTAKUSUMAH

( Dosen Desain Itenas Bandung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s