Jaka Susuruh atau Raden Wijaya

Posted: 14 Juli 2011 in SEJARAH

Rakeyan Jayadarma sebagaimana kisah diatas dinikahkan dengan putri Mahisa Campaka dari Tumapel Jawa Timur, bernama Dyah Lembu Tal. Dari pernikahan Rakeyan Jayadarma, ia mempunyai seorang anak yang diberi nama Sang Nararya Sanggramawijaya atau sering disebut Raden Wijaya. Namun Jayadarma wafat pada usia muda, sehingga Dyah Lembu Tal memohon ijin untuk tinggal di Tumapel bersama putranya.

Raden Wijaya setelah dewasa ia menjadi senapati Singasari, pada waktu itu diperintah oleh Kertanegara, hingga pada suatu ketika ia mampu mendirikan negara Majapahit. Raden Wijaya didalam Babad Tanah Jawi dikenal juga dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran, karena ia memang lahir di Pakuan.

Dalam Pustaka Nusantara III dijelaskan, bahwa Darmasiksa masih menyaksikan Raden Wijaya, cucunya mengalahkan Jayakatwang, raja Singasari. Kemudian dengan taktis ia mampu menyergap dan mengusir laskar Kublay Khan dari Jawa Timur. Kemudian empat hari pasca pengusiran pasukan Cina, atau pada 1293 M, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Wilwatika dengan gelar Kertarajasa Jayawardana.

Peristiwa yang juga direkam didalam Pustaka Nusantara III tentang Darmariksa memberikan nasehat kepada Raden Wijaya, cucunya. Ketika itu Raden Wijaya berkunjung ke Pakuan dan mempersembahkan hadiah kepada kakeknya, sebagai berikut :

Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlahanyang ngku wus angemasi. Hetunya nagaramu wus agheng jaya santosa wruh ngawang kottaman ri puyut katisayan mwang jayacatrum, ngke pinaka mahaprabu. Ika hana ta daksina sakeng Hyang Tunggal mwang dumadi seratanya.

Ikang Sayogyanya rajya Jawa lawan rajya Sunda paraspasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur. Yatanyan tan pratibandeng nyakrawati rajya sowangsowang. Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda duh kantara, wilwatika sakopayana maweh carana ; mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatika.

(Janganlah hendaknya kamu menggangu, menyerang dan merebut Bumi Sunda karena telah diwariskan kepada Saudaramu bila kelak aku telah tiada. Sekalipun negaramu telah menjadi besar dan jaya serta sentosa, aku maklum akan keutamaan, keluar biasaan dan keperkasaan mu kelak sebagai raja besar. Ini adalah anugrah dari Yang Maha Esa dan menjadi suratan-Nya. – Sudah selayaknya kerajaan Jawa dengan kerajaan Sunda saling membantu, bekerjasama dan saling mengasihi antara anggota keluarga. Karena itu janganlah beselisih dalam memerintah kerajaan masing-masing. Bila demikian akan menjadi keselamatan dankebahagiaan yang sempurna. Bila kerajaan Sunda mendapat kesusahan, Majapahit hendaknya berupaya sungguh-sungguh memberikan bantuan ; demikian pula halnya Kerajaan Sunda kepada Majapahit).

Dari uraian diatas tentunya dapat disimpulkan, bahwa Darmasiksa memiliki peranan yang cukup besar terhadap keutuhan Sunda. Dilakukan tidak menggunakan kekuatan militer, melainkan dengan cara Diplomasi. Kiranya keindahan leadership Darmasiksa patut dicontoh oleh generasi berikutnya. Selain ia ahli agama dan memegang erat tetekon keyakinannya, ia pun mampu menjalankan fungsinya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

Penerus Darmasiksa

Darmasiksa wafat tahun 1297 M. Sebelumnya ia telah menunjuk Citraganda (1303 – 1311 M), cucunya putra Prabu Ragasuci untuk memerintah di Pakuan. Ia sejaman dengan Raden Wijaya (1293 – 1309) dan Jayanegara (1309 – 1311 M) di Majapahit. Sedangkan sebelum perpindahan lokasi pemerintahan ke Pakuan, di Saunggalah masih dipegang oleh Ragasuci. Untuk kemudian Ragasuci meninggal dan dikuburkan di Taman (Tasik). Mungkin ini juga akhirnya Ragasuci disebut Sang Lumahing Taman.

Pada masa Citraganda pakuan dianggap sudah mulai redup, karena di timur sudah muncul kota baru yaitu Kawali. Sehingga putranya, Prabu Linggadewata (1311 – 1333 M) menjalankan pemerintahannya yang berkedudukan di Kawali, sedangkan Pakuan sempat menjadi raja daerah. Pakuan baru berfungsi kembali sebagai ibukota Sunda pada tahu 1482 M. Pada masa itu dikenal sebagai periode awal kejayaan Pajajaran.

Sumber bacaan :

  • Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
  • Sejarah Jawa Barat, Yoseph Iskandar, Geger Sunten, Bandung – 2005
  • Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.
  • wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh
  • putra-galunggung.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s