SEORANG HAJI PERTAMA DI INDONESIA

Posted: 22 Desember 2010 in SEJARAH

Seperti yang telah di ungkapkan pada bagian terdahulu,Prabu guru pangadiparamantajayadewabrataatau sang Bunisora Yang bertahta di kerajaan sunda ( 1357 – 1371 Masehi ) sebagai pengganti semantara setelah kakanya ( Prabu wangi ) gugur di Palagan Bubat, Dari Permaisuri memperoleh Putra dintaranya ialah :

1.Giridewanata atau ki gedeng kasmaya,yang menjadi penguasa kerajaan cirebon girang.

2.Brata legawa menjadi saudagar dan meiliki kapal layar niaga . dan memeluk agama islam

3.Banawati , menjadi Ratu di Wilayah bawahan Galuh

4.Mayangsari , Yang di peristri oleh sang maha prabu Niskala wastu kencana, Ibunda Prabu Dewa niskala , neneknya sri baduga maha raja.

Sang Bratalagawa,putri ke dua sang Bunisora usianya lebih muda dari sang maha prabu dewa niskalawastu kencana. Sang bratalegawa memilih hidup menjadi saudagar besar . ia memiliki kapal layar dagang , emas permata dan rumah peristirahatan di lereng gunung maupun di tepi pantai .

Sang Bratalagawa sudah biasa berlayar ke sumatra semenanjung cina , campa, india ,persia, sampai ke negara arab ia bersahabat dengan saudagar dan para pejabat setempat. Oleh karna sering mengembara di luar negri itulah sang Bratalegwa kemudian menemukan jodohnya dengan seorang muslimah yang bernama Farhana binti Muhamad.Muhamad adalah saudagar yang menjadi sahabat dan rekannya dalam perdagangan. Sang Bratalagawa kemudian memeluk islam bersama sama istrinya menunaikan ibadah haji ke mekah. Di tanah suci dia mendapat kan julukan Haji BAHARUDIN AL JAWI.

Dari tanah suci mekah Sang bratalagawa beserta istrinya kembali ke kerajaan galuh.setibanya di ibukota ia menemui adiknya Ratu Banawati , bersilaturahmi sekaligus mengajak adik nya masuk islam tetapi upayanya tidak berhasil. Sang Bratalagawa alias haji baharudin Al jawi beserta istrinya kembali ke Cirebon girang . di cirbon girang dia mengajak kakanya Ki gedeng Kasmaya Untuk menganut agama islam tapi kakanya juga menolak ajakanya. Ketidak berhasilnya tidak membuat keretakan hubungan keluarganya baik kepada adik ataupun kakanya. Haji Baharudin tetap membantu kelancaran pemerintahan kakak dan adiknya.

Sebagai haji Pertama di di kerajaan Galuh sang Bratalagawa lebih di kenal denganHaji Purwa ( Yang pertama ) Dari pernikahanya dengan Farhana memperoleh seorang Putra Yang di beri NamaAHMAD MAULANA SAFIUDIN setelah putranya beranjak dewasa mengajak keluarganya ke Gujarat Setibanya di Gujarat AHMAD MAULANA SAIFUDIN bejodoh dengan ROGAYAH bintiABDULLAH. Putri sahabat Haji purwa. dari perkawinanya memperoleh seorang putri di beri nama HADIJAH. Setelah Hadijah dewasa ia menikah dengan Saudagar dari Hadalmaut . akan tetapi sebelum memperoleh keturunan suami Hodijah meninggl dunia . untuk menentram kan hati nya yang duka Hadijah bersama kedua orang Tuanya kembali ke kerajaan Galuh mereka tinggal , di pasambangan Cirebon . Walaupun Haji Purwabeserta anak Cucunya berbeda agama dengan Sang Maha perabu Niskala wastu Kencana beserta keluarganya tidak memusuhinya .Hubungan kekeluargaan merka tetap harmonis.

Haji Purwa Sekeluarga merupakan penyebar Agama islam Pertama di jawa barat walaupun pengikutnya hanya beberapa orang saja. Hal tersebut terjadi tentunya atas restu sang maha raja Niskala wastu kencana .sebab Haji Purwa adalah adik sepupu dan Sekaligus kakak iparnya.


B. PONDOK QURO PESANTREN TERTUA DI JAWA BARAT

Pada Tahun 1416 Masehi armada angkatan laut cina mengadakan pelayaran keliling atas perintah kaisar CHENG – Tu atau Kaisar Yunglo, Kaisar Dinasti ming yang ke tiga. Armada angkatan laut tersebut di pimpin oleh Laksamana CHENG HO aliasSAM PO TAY KAM Yang beragama islam demilian juga juru tulisnya MA HUAN Juga beragama Islam.Armada angkatan laut cina yang di pimpin laksamanaCHENG HO berjumlah 63 buah kapal Dengan prajurit lautnya sekitar 27.800 orang . Tujuan pelayaran meraka adalah menjalin persahabatan dengan negri tetangga cina di sebrang lautan.

Dalam pelayaran menuju maja pahit armada CENG HO singgah di PURA,KARAWANG . Dalam rombongan nya terdapat seorang Ulama islam bernamaSYEH HASANUDIN dari Campa Dia bermaksud menyebarkan islam di jawa .Oleh karna sesama muslim laksamana CHENG HO mengijin kan Syeh Hasanudin ikut serta dalam Rombongan nya. ikut dalam kapal layarnya.Ketika armada Cheng ho singgah di Pura itulah Syeh Hasanudin dan Rombongan Turun sedangkan Armada cina melajutkan perjalanannya menuju Jawa timur.

Armada Cheng HO singgah di pelabuhan Muara Jati cirebon ,Turun dan beristirahat seminggu lamanya ,Ia menemui penguasa wilayah pelabuhan yang di kenal sebagai juru labuan Ki Gedeng Jumajan jati alias Ki Gedeng tapa Kencana, putera bungsuSang Mahaprabu Niskala Wastu Kencana . Sebagai tanda persahabatan, Sang Laksamana Cheng Ho mendirikan sebuah mercusuar di puncak bukit di Pantai Muara Jati.

Syeh Hasanudin beserta pengiringnya yang turun di Pura karawang, adalah cina Muslim yang menganut Mazhab Hanapi. Ia tiba di pura karawang disertai puteranya yang bernama Syeh Bantong alias Tan Go Wat. Syeh Hasanudin, setelah beberapa lama tinggal di Pura karawang, berjodoh dengan Ratna Sondari, puteri penguasa daerah Pura karawang, yaitu Ki Gedeng Karawang. Dari perkawinanya memperoleh putera yang kemudian di kenal sebagai Syeh Ahmad, yang selanjutnya menjadiPenghulu ( Na’ib ) pertama di Karawang. Cucunya Syeh Ahmad dari puterinya Nyi Mas Kedaton, bernama Musanudin.lebai Cirebon dan memimpin Tajug Sang Ciptarasa pada pemerintahan Susuhunan Jati. Kelak Musanudin tersebut menjadi

Putera Syeh Hasanudin, Syeh Bantong, selanjutnya tinggal di Gresik, sebagai saudagar dan guru agama Islam. Dari isterinya, Siu Te Yo, ia mempunyai seorang puteri, di beri nama Siu Banci. Puterinya tersebut diperisteri oleh Prabu Kertabumidari Kerajaan Majipahit, Dari  perkawinan dengan Siu Ban Ci, memperoleh putera di beri nama Jin Bun oleh Kakeknya, dan di beri nama Praba oleh Prabu Kertabumi.Jin Bun alias Praba berguru agama islam ke Sunan Ampel. Oleh Sunan Ampel Jin Bun alias Praba di beri nama Abdul Fatah. Dialah yang kemudian di sebut Raden Fatah yang kelak menjadi Raja Demak yang Pertama.

Kembali ke Syeh Hasanudin. Atas seijin Ki Gedeng Karawang, mertuanya, juga atas seijin Sang Maha Prabu Niskala Wastu Kancana, Syeh Hasanudin beserta pengirinya mendirikan Pesantren yang di beri nama Pondok Quro. Di beri nama demikian,karena Syeh Hasanudin cenderung mengutamakan pelajaran membaca Al Qur’an dengan baik, sehingga ia pun terkenal sebagai Syeh Quro.

Di antara santri-santrinya terdapat Subanglarang, puterinya Ki Gedeng Tapa, penguasa kerajaan Singapura Muara Jati Cirebon, Subanglarang adalah cucunyaSang Maha Prabu Niskala Wastu Kancana, yang kemudian berjodoh dengan Sang Pamanhrasa ( Sri Baduga Maharaja ), melalui Sayembara.

C. HAJI ABDULLAH IMAM

Sebagaimana yang telah di kemukakan pada bagian terdahulu, perkawinan Sang Pamanahrasa ( Sri Baduga Maharaja ) dengan Subanglarang memperoleh putera antara lain : Walang Sungsang, Rara Santang, dan Rajasangara. Karena subanglarang beragama islam, ketiga puteranya, oleh ayahnya ( Sri Baduga Maharaja ), di restui memeluk agama Islam sejak kecil.

Setelah ibunya wafat, ketiga puteranya itu merasa tidak betah tinggal di keraton pakuan pajajaran. Hal itu di karenakan adanya persaingan terselubung di antara sesama putera Sri Baduga Maharaja. Pada suatu ketika, Walangsungsang bersama adik-adiknya meminta izin secara baik-baik kepada ayahhandanya, untuk pergi ke Kerajaan Singapura ( cirebon ) dan menetap bersama kakeknya. Alasan Walangsungsang dan adik-adiknya yang utama. Dikemukakan secara terus terang kepada ayahnya. Walangsungang yang berstatus Tohaan ( Pangeran ), juga adik-adiknya, merasa bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai putera-puteri Maharaja. Mereka haus akan ilmu pengetahuan, terutama di bidang keagamaan. Ketika ibunya masih hidup, mereka ada yang membimbing. Tetapi ketika ibunya telah wafat, di pakuan tidak ada orang yang bisa di jadikan guru mereka, tidak ada lagi penenang batin yang memadai bagi mereka.

Sri Baduga Maharaja, ketika itu masuh berstatus Prabu Anom, bahkan mertuanya ( Prabu Susuktunggal ) masih di bawah kekuasaan kakeknya, Sang Maha Prabu Niskala Wastu Kancana. Sri Baduga Maharaja, atau Prabu Anom Jayadewata, sangat maklum atas atas ketiga putranya itu. Dengan berat hati, ia mengijinkanWalang sungsang dan Rara Santang sedangkan Raja Sangara di mohon untuk tetap tinggal di Pakuan.

Sesudah beberapa lama di Singapura, Sang Pangeran Walang Sungsang memohon ijin kepada kakeknya, untuk mengembara berguru mencari ilmu, setelah mendapat restu dari ki Gedeng tapa, Sang Pangeran Walang Sungsang pergi mengembara ke wilayah timur                    ( Parahiyangan bang wetan ).

Sang Pangeran akhirnya tiba di padepokan Ki Danuwarsih, seorang pendeta agama Budha, Ki Danuwarsih adalah anak seorang pendeta Budha, Ki danusetra, yang berasal dari Gunung Dihyang ( dieng ), Kemudian menjadi pendeta di keraton galuh, ketika ibukota kerajaan Galuh masih di Karang Kamulyan, Ciamis.

Sulit di Bayangkan, bagaimana keteguhan Sang Pangeran Walang Sungsang yang muslim, berguru kepada seorang pendeta Budha, mungkin saja ia mengetahui agama Budha, hanya sebagai studi perbandingan. Tetapi yang jelas, kemudian ia memperisteri Indang geulis, puterinya Ki Danuwarsih. Ketika Sang PangeranWalang Sungsang berada di kediaman Ki Danuwarsih, adiknya Rara Santang, menyusulnya. Tempat tinggal Ki Danuwarsih, menurut naskah Pustaka Negara Kertabumi parwa I sarga , hanya di terangkan di Parahiyangan bang wetan. Ketika mengadakan “Penelitian Bahasa Sunda” di kabupaten pekalongan atas Prakasa

Lemlit Unpas tahun 1989, di kecamatan paninggaran, terdapat beberapa situs, diantaranya:

1. Makam keramat Embah Wali Tanduran

2. Makam Pajajaran di bukit Sigabung: dan

3. Makam Pajajaran di Pacalan Kampung Sebelas.

Setelah mengadakan penelitian Pejabat, sesepuh, dan rakyat, di paninggaran, tidak pernah mengetahui asal-usul nama Daerahnya. Ada yang mengatakan paninggaran itu bersal dari kata “meninggar-inggar” ( penuh kegembiraan ). Dalam bahasa sunda sangat jelas bahwa arti dari Paninggaran adalah Pemburu dalam bahasa Indonesia. Setelah di terangkan bahwa Paninggaran itu artinya Pemburu, para Sesepuh menerangkan, sesungguhnya Embah Wali Tanduran itu dulunya seorang pemburu. Bahkan, orang tua mereka  (Penduduk Asli Paninggaran ), semuanya mahir berburu, mereka membuktikanya dengan memperlihtakan tombak-tombak pusaka dan panah pusaka peninggalan lelurnya, yang khusus hanya di gunakan untuk berburu.

Untuk mengetahui tokoh Embah Wali tanduran yang di keramatkan masyarakat kecamatan paninggaran , bahkan setiap tahun mengadakan “Upacara Khaol” ke makam keramat tersebut, ditelusuri melalui “Pemimpin Upacara khaol” yaitu Kyai Haji Syarifudin di pesantren desa Rowokembu, kecamatan Wonopringgo, kabupaten Pekalongan.

Kyai H. Syarifudin ( 70 tahun ) menerangkan bahwa makam Embah Wali Tanduran, sebenarnya bukan makam, tetapi pesarean atau patilasan, bekas Pangeran Cakrabuana. Begitu yang di sebut makam Pajajaran di bukit si Gabug. Adalah Pasarean tempat Pangeran Cakrabuana menyepi, kalau makam pajajaran yang berada di Pacalan Kampung Sebelas, itu tempat tinggalnya Pangeran Cakrabuana, Tentu masyarakat tidak akan berani merusak batu-batu yang berada di sana, karena suka bertemu dengan Harimau Putih dari pajajaran.

Pangeran Cakrabuana adalah nama lain dari Pangeran Walang Sungsang. Kyai H. Syarifudin membenarkannya, bahkan ia mengaku sebagai salah seorang keturunannya, menurut Kyai H. Sayarifudin, patilasan-patilsan (situs) Pangeran Cakrabuana banyak terdapat di beberapa kecamatan. Setelah melihat peta di Kabupaten Pekalongan, Patilsan-patilasan tersebut dapat dihubung-hubungkan melalui Garis lurus, terbentang antara Gunung Dieng ( Dihyang ) sampai Cirebon.

Berdasarkan Identifikasi tersebut, mungkin saja Pangeran Walang Sungsang pernah tinggal di Padepokan agama Budha, di dataran tinggi dieng. Atau mungkin, pada waktu itu, dataran tinggi Dihyang ( Dieng ) masih termasuk wilayah “Parahiyangan bang Wetan”. Kalau identifikasi tersebut “benar” mungkin ketika Pangeran Walang Sungsang, Indang Geulis, dan Rara Santang, pulang ke Cirebon, melalui lajur dan melewati Paninggaran. Di Cirebon, pada waktu Pangeran Walang Sungasang Pulang dari Pengembaraannya, telah berdiri pesantren Islam, Pondok Quro yang terletak di kaki bukit Amparan Jati. Pesantern Amparan Jati bisa berdiri atas Prakasa Ki Gedeng Tapa penguasa Kerajaan Singapura, serta pemimpinya di percayakan kepada sahabatnya Syeh Datuk Kahfi.

Syeh Datuk Kahfi kemudian menikah dengan Hadijah, cucu haji Purwa Galuh (Baharudin alias Bratalagawa), karena Hadijah cucunya seorang janda kaya-raya, Syeh Datuk Kahfi bisa membangun pesantren yang lebih besar dan lebih baik, sebagai cucu haji Purwa, Hadijah penganut agama Islam Mazhab Safi’i. Dari Hadijah, syeh Datuk Kahfi menpunyai seorang puteri bernama Nyi Ageng Muara yang kelak di peristeri oleh Ki Gedeng Krengkeng.

Pesantren yang didirikan oleh Hadijah dan suaminya disebut Pondok Quro Amparan Jati, merupakan pesantren tertua kedua di Jawa Barat. Di pesantren inilah akhirnya Walang Sungsang, Indang Geulis, dan Rara santang, menjadi santrinya Syeh Datuk Kahfi. Dari gurunya  ( Syeh Datuk Kahfi ), Pangeran Walang Sungsang  mendapat nama panggilan baru: Samadullah. Gurunya menyarankan agar ia membuka perkampungan baru untuk penyiaran agama islam.

Atas seijin kakeknya kakeknya ( Ki Gedeng Tapa ), Samadullah memilih kawasan hutan kebon pesisir yang di sebut Tegal Alang-alang atau Lemah Wungkuk. Di Kawasan tersebut, ternyata telah bermukim Ki Danusela adiknya Ki Danuwarsi           ( mertunya Samadullah ). Kampung terdekat sudah ramai penduduknya dari lemah wungkuk, adalah Dukuh Pasambangan, yang pernah dimukimi Haji Purwa Galuh.

Pada tanggal 14 bagian terang bulan caitra tahun 1367 saka atau kamis tanggal l8 April tahun 1445 Masehi, bertepatan dengan masuknya penanggalan 1 Muharam 848 Hijriyah, pangeran Walang Sungsang alias ki Samandullah di bantu oleh 52 orang penduduk , membuka Perkampungan baru di hutan pantai kebon pesisir.

Kampung yang baru dibuka itu di beri nama Cirebon larang atau Cirebon pesisir . nama ter sebut di ambil berdasarkan nama yang sudah ada . yaitu kerajaan cirebon yang terletak di puncak gunung ceremai yang pernah di Rajai oleh Ki Gedeng Kasmaya ( putra sulung sang Bunisora ) . ketika cirebon pesisir telah berdiri ,kawasan cirebon yang di lereng gunung ceremai di sebut cirebon girang .

Penduduk cirebon setelah dua tahun di dirikan  ( 1447 masehi ) tercatat ada 346orang yang terdiri dari 182 laki laki dan 164 perempuan . rincian menurut golongan nya sebagai berikut :

1. 196 orang sunda

2. 106 0rang jawa

3. 16 orang sumatra

4. 4 orang semenanjung malaysia

5. 2 orang india

6. 2 orang persiA

7. 3 orang syam

8. 11 orang arab

9. 6 orang cina

Mereka itulah yang bersama ki Samandulah  membangun tajug di tepi pantai dan di beri nama Jalagraham ( rumah air ), mesjid tertua yang oertama di Cirebon ( bahkan mungkin di jawa barat ). Kampung baru Cirebon pasisir, penduduknya terdiri atas Caruban ( campuran ) berbagi bangsa dan agama. Merekalah yang sepakat memilih ki Danusela menjadi Kuwu yang pertama dan ki Samadullah terpilih menjadi Pangraksa bumi ( yang mempehartikan dan memelihara keberadaan tanah pemukiman )dengan julukan Ki Cakra bumi yang kemudian di juluki pula Pangeran Cakra buana.

Atas nasehat guru nya ( Syeh datuk kahfi ), Ki Samadullah agar segera menunaikan ibadah Haji. Sebagai seorang muslim yang taat kepada ajaran agamanya, Ki Samadullah bersama adiknya Rara Santang. Atas biaya dari kakenya ( Ki Gedeng tapa ), pergi berlayar menuju tanah arab. Indang Geulis, Isterinya tidak dapat di turut serta sehubungan sedang mengandung.

Di pelabuhan Jedah, Ki Samadullah dan Rara Santang, berjumpa dengan Syarif Abdullah, seorang penguasa ( Wali Kota ), di negeri Mesir. Mereka bersama Syarif Abdullah menuju kota Mekah. Selama menunaikan Ibadah Haji, Ki Samadullah dan Rara Santang, tinggal dirumah saudaranya Syeh Datuk Kahfi. Di kota Mekah itulah akhirnya Rara Santang di persunting oleh Syarif Abdullah, setelah usai menunaikan Ibadah Haji. Syarif Abdullah adalah keturunan Bani Hasyim yang pernah berkuasa atas wilayah tanh Palestina tempat tinggal Bani Israil. Ia menjadi walikota di bawah kekuasaan Sultan Mesir, keturuna Wangsa Ayubi dari Bani Mameluk. Setelah menikah dengan Rara Santang, Syarif Abdullah beserta isterinya pulang ke negeri mesir.

Setelah menunaikan Ibadah Haji, sang pageran Walang Sunsang alias Ki Samadullah alias pangeran Cakra Buana mendapat nama baru : Haji Abdullah Imam. Begitu juga adiknya Rara Santang mendapat nama baru sebagia Hajjah Syarifah Muda’im. Adapun yang memberi nama mereka, adalah Syeh Abdul Yajid gurunya di Mekah. Haji Abdullah Imam ( pangeran Walang Sungsang ) bermukim dahulu selama 3 Bulan di Mekah. Ketika dalam perjalanan pulang ke Jawa Barat, Sempat singgah di Bagdad ( Irak ) dan Cempa ( indo Cina ).

Di cempa, Haji Abdullah Imam berguru kpeada Syeh Ibrahim Akbar. Haji Abdullah Imam di jodohkan dengan puterinya, dan dibawanya pulang ke Cirebon. Setibanya di Cirebon, isterinya, dan dibawanya pulang ke Cirebon. Setibanya di Cirebon, isterinya, Indang Geulis, telah melahirkan seorang puteri, kemudian di beri nama Nyai Pakungwati. Untuk meng-Islam-kanya keluarga Ki Danusela. Haji Abdullah imam memperisteri Retna Riris ( Puterinya Ki Danusela ), dan namaya di ganti dengan Kancana Larang. Ketika Ki Danusela wafat, Haji Abdullah Imam terpilih menjadi Kuwu yang kedua di Cirebon Larang.

Ketika Ki Gedeng Tapa ( Kakeknya ) wafat, Haji Abdullah Imam tidak mendapat Warisan Tahtanya, melainkan mendapat warisan harta kekayaan yang berlimpah. Bermodalkan warisan harta kekayaan yang berlimpah dari kakeknya. Haji Abdull Imam mendirikan Keraton, yang kemudian di beri nama Keraton Pakungwati, diambil dari nama puterinya. Kemudian Haji Abdullah Imam membentuk tentara Kerajaan. Memperhatikan Puternya telah berhasil membuat kerajaan Islam pertama di Pajajaran, Sri Baduga Maharaja mengutus Ki Jagabaya ( Perwira Angkatan Perang Pajajaran ) beserta pengirinya, juga turut serta Rajasangara ( adik bungsu Haji Abdullah Imam ), untuk merestuinya. Di Keraton Pakungwati, Haji Abdullah Imam dinobatkan sebagai Raja Daerah, dengan gelar Srimangana.

Encum Nurhidayat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s