PERJALANAN MENUJU TANAH LELUHUR (KUTA TANDINGAN)

Posted: 21 Desember 2010 in WISATA DI KARAWANG

Encum Nurhidayat Pamanah RasaNun jauh disana terlihat bentangan kaki gunung memanjang membatasi kota karawang, purwakarta dan bekasi, perbukitan yang menyimpan misteri yang belum terpecahkan dari generasi ke generasi, seakan enggan menampakan jati dirinya yang terus bersembunyi dibalik rimbunnya belukar, cerita dari kakek ke cucu dari cucu ke cicit terus menggema seakan tak pernah habis-habisnya, hal ini-lah yang menambah penasaan bagi seseorang yang menyenangi makna akan sejarah nenek moyangnya.

Nama Kutatandingan mungin sudah tidak asing ditelinga orang karawang, legenda-kah, atau hanya mitos belaka..? Almarhum kakek ku sering bercerita pendahulu kerawang mengenai perbukitan serta hutan legenda itu.

Konon katanya Kota Karawang mulai terbentuk di tempat itu, sayang kejelasan sumber referensi-nya belum ditemukan, sehingga cerita itu terkesanhanya mitos belaka.

Selama semuanya tidak dibarengi dengan data yang valid tetap aku menganggapnya hanya dongeng sebelum tidur, konon di tempat itu menurut cerita kakek, Senopati KERTABUMI III (ayahanda Prabu singaperbangsa) mendirikan Kadipaten Karawang pertama, tepatnya di daerah udug-udug yang sekarang berganti nama menjadi Desa Mulyasejati.

Atas kesepakatan dengan kawan satu profesi ekspedisi ini dimulai, berbekal seadanya kami bertiga meyusuri hutan belukar. Hutan yang menyimpan misteri ini sekarang sudah di huni penduduk dari berbagai daerah, seperti Karawang Purwakarta dan Cianjur, terutama mereka yang tergabung pada komunitas Partisan Siliwangi (PS). Organisasi yang di dirikan oleh R. Pura Direja tokoh karawang,Subang dan Purwakarta yang sangat berpengaruh serta banyak jasanya bagi terlahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia serta beliau juga salah seorang sahabat terdekatnya Bung Karno (Presiden RI pertama).

Daerah perbukitan Kutatandingan sekarang kepengurusannya di tangani Perhutani ini menjadi ladang andalan penduduk sekitarnya, hasil hutan dan perkebunan serta palawija hasilnya mereka jual, cukup-lah untuk menghidupi keseharian penduduk dusun cisoga dan Kutajati,

Rute yang kami tempuh di mulai dari Desa mulyasejati Kecamatan Ciampel, dan motor kami terhenti tepat di dusun Cisoga, setelah menitipkan motor kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, menyusuri jalan setapak yang cukup licin serta mendaki, dan Alhamdulillah perjalanan kami disambut dengan guyuran hujan yang sangat deras pada waktu itu. Perjalanan yang sangat melelahkan tapi cukup membuat kami terkesan.

Ironis memang….. kami seakan tidak percaya ko masih ada daerah di Karawang yang tertinggal seperti ini daerah yang mempunyai PAD cukup tinggi di daerah Jawa-Barat sungguh menyayat hati.

Sesekali kami berpapasan dengan petani yang membawa hasil kebun dari atas bukit, ada yang membawa padi huma, Pisang, ketela pohon dan hasil kayu yang mereka dapatkan dari atas bukit, kutatap wajah mereka sungguh menggambarkan keprihatinan, seakan tergambar jelas keriput yang menghias di wajahnya. Ya Allah ternyata masih banyak Rakyat Karawang yang hidup seperti ini….(jeritku dalam hati).

Perjalan ditempuh hampir 2 jam, baru kutemukan jalan berbatu yang tertata rapi, batu-batu yang sangat unik mungkin disusun ratusan tahu yang lalu… mulailah aura magic aku rasakan sepanjang jalan itu (Jalan Purwa.Red) yang dikanan-kirinya berjejer pohon pinus serta mahoni membawa suasana seakan kembali kejaman dulu.

Tak lama setelah kami menyusuri Jalan purwa, tak sampai 1 Km kami menemukan jalan yang menanjak orang disana bilang Tanjakan sambernyawa, jalan terbuat dari batu seperti ditatah atau di ratakan cukup merepotkan apalagi hujan terus mengiringi perjalanan kami. Tanjakan yang mempunyai kecuraman hamper 80 derajat sempat merepotkan perjalanan kam.

Setelah kami lalui tanjakan sambernyawa antara dua ratus meter tibalah di Kutajati, sebuah dusun/patilasan yang cukup mengesankan hati, karena di tempat ini aku bertemu dengan kerumunan anak kecil yang sedang belajar di pondokan sederhana, dengan bertelanjang dada mereka membawa buku yang sudah kumal serta pensil pendek. Mereka menatap kami seperti ketakutan, kami mendekati mereka tapi mereka malah lari tunggang langgang, ada yang menangis ada pula yang menatap tanpa bergeming memandangi kami. Hingga kawan kami mempunyai ide memberikan uang sepuluh ribuan supaya mereka sekedar berpose untuk di poto. Benar saja strategi kawan kami jitu…. Mereka mau untuk di poto dan bercengkrama…(heheheeh dasar).amuk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s