RAJA PAMUNGKAS PAJAJARAN

Posted: 7 Juli 2011 in KERAJAAN PAJAJARAN

Raga Mulya (1567 – 1579) didalam sejarah Sunda dikenal sebagai raja Pajajaran yang terakhir. Penulis Carita Parahyangan memberikan mana Nusiya Mulya. Dalam naskah-naskah Wangsakerta ia disebut Raga Mulya alias Prabu Suryakancana. Raja ini tidak berkedudukan di Pakuan sebagaimana raja Sunda lainnya, tetapi di Pulasari, Pandeglang. Oleh karena itu, ia disebut Pucuk Umun Panembahan Pulasari.

Raja dipengungsian

Pasca penyerangan Banten pada masa Nilakendra, Pakuan sudah tidak berfungsi sebagai ibukota, bahkan telah ditinggalkan Nilakendra dan kerabat keraton yang mengungsi keberbagai wilayah. Pakuan kemudian diurus oleh para pengawal istana dan penduduk,  dan mampu bertahan sampai dua belas tahun, ketika itu Banten melakukan penyerangan untuk yang kedua kalinya dan memboyong baru Sriman tempat dinobatkannya raja Sunda.

Sebagian penduduk mengungsi ke wilayah pantai selatan, membuat pemukiman baru didaerah Cisolok dan Bayah (mungkin juga komunitas saat ini berada didaerah Ciptarasa dan Ciptagelar).

Tentang pelarian keluarga keraton kearah selatan, dikisahkan pada awal abad yang lalu oleh Aki Baju Rambeng, juru Pantun dari Bogor selatan, dalam judul Dadap Malang Sisi Cimandiri, mengetengahkan keteguhan seorang perwira Sunda, tokoh tersebut bernama Raden Rakeyan Kalang Sunda. Selain itu, muncul pula legenda tentang Uga Wangsit Siliwangi, yang diyakini di amanatkan Prabu Siliwangi didaerah ini, padahal Siliwangi, hidup dijaman Pajajaran masih jeneng dan Siliwangi masih mampu memerintah dengan tenang.

Rombongan lainnya mengungsi menuju ke timur, diantaranya terdapat pembesar kerajaan, seperti Senapati Jayaprakosa atau Sanghyang Hawu, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.

Ketika meloloskan diri dari Pakuan, Jayaperkosa memboyong Mahkota dan atribut raja Pajajaran (Sanghiyang Pake) ke Sumedang Larang, mungkin tertinggal ketika Nilakendra meloloskan diri dari Pakuan. Didalam tradisi raja-raja Pajajaran Sanghiyang pake dan batu gilang atau palangka batu sriman sriwacana dianggap penting untuk menunjukan legalitas seorang raja.

Sebagian penduduk Pakuan mengungsi kearah barat daya tepatnya di lereng Gunung Pulasari Pandeglang, Kampung Kadu Hejo, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang. Rombongan tersebut dipimpin oleh salah satu putra Nilakendra, yang bersedia meneruskan tahta Pajajaran, yaitu Sang Ragamulya Suryakancana. Menurut legenda Kadu Hejo, di daerah Pulasari (tempat situs Purbakala) terdapat peninggalan seorang raja tanpa membawa mahkota. Ia memerintah sebagai raja pendeta, tetapi akhirnya dihancurkan oleh Pasukan Banten yang menyerang kerajaan itu. [RPMSJB, Jilid keempat, hal.30]

Ketiadaan pakaian dan perangkat raja diatas dapat pula dikaitkan dengan cerita lain. Dalam kisahnya disebutkan bahwa mahkota dan pakain kerajaan tersebut diboyong oleh Jaya Perkosa dari Pakuan dan adik-adiknya, yakni Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot, kemudian diserahkan untuk digunakan Geusan Ulun pada saat pelantikannya. Dengan penggunaan perangkat tersebut maka Geusan Ulun dianggap syah sebagai pewaris tahta Sunda.

Serangan Banten kedua

Pada tanggal 12 bagian terang bulan Badra tahun 1490 Saka, bertepatan dengan tanggal 19 September 1568 masehi Susuhunan Jati wafat. Pemerintahan Cirebon diwalikan kepada Fadilah Khan, kemudian dua tahun sesudahnya atau pada tahun 1570, Fadilah Khan wafat, tahta Cirebon selanjutnya dilanjutkan oleh Panembahan Ratu. Namun lebih banyak mengkonsentrasikan perhatiannya ke Pajang, karena termasuk salah satu murid sekaligus menantu dari Adiwijaya.

Di Banten pada tahun 1570 Panembahan Hasanudin juga wafat. Tahta Banten di lanjutkan oleh putranya, yakni Panembahan Yusuf. Ia sangat berperan dalam menentukan hubungan selanjutnya dengan masalah Pajajaran. Hal ini disebabkan pula para penandatangan perdamaian Cirebon dengan Pajajaran sudah wafat, oleh karenanya ia tidak merasa harus menghormati perjanjian tersebut.

Semula Panembahan Yusuf tertarik untuk menaklukan Palembang, namun ia merasa kurang puas karena Pakuan belum seluruhnya dapat dilumpuhkan. Padahal telah dikepung dan beberapa kali diserang, benteng Pakuan masih belum dapat diterobos. Pada masa itu Pakuan sudah ditinggalkan rajanya, namun masih ada penduduk bersama pasukan yang ditugaskan untuk mempertahan Pakuan.

Untuk melakukan penyerangan, Panembahan Yusuf memerlukan persiapan yang matang, antara lain mempersiapkan pasukan yang lengkap dan menebar para telik sandi untuk mengetahui kelemahan penjagaan benteng. Penyerangan akhirnya dilakukan pada tahun 1579 dengan menggabungkan dua pasukan besar, yakni Banten dan Cirebon.

Menurut Wangsakerta dalam Pustaka Rajyarajya Bhumi Nusantara parwa III sarga I halaman 219. :

  • Pajajaran sirna ing bhumi ing ekadaci cuklapaksa Wesakhamasa saharsa limangatus punjul siki ikang cakakala. (Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka” bertepatan dengan tanggal 11 Rabiul’awal 987 Hijriyah, atau tanggal 8 Mei 1579 M).

Sejarah Banten memberitakan keberangkatan pasukan Banten ketika akan melakukan penyerangan ke Pakuan, dalam Pupuh Kinanti, :

  • Nalika kesah punika / ing sasih Muharam singgih / wimbaning sasih lapisan / dinten ahad tahun alif / punika sakalanya / bumi rusak rekeih iki ( Waktu keberangkatan itu / terjadi bulan Muharam / tepat pada awal bulan / hari Ahad tahun Alif /inilah tahun Sakanya / satu lima kosong satu). [RPMSJB, hal. 32]

Kejatuhan benteng pakuan diketahui dari naskah Banten. Naskah tersebut memberitakan, bahwa benteng kota Pakuan baru dapat dibobol setelah dibuka dari dalam oleh komandan kawal benteng Pakuan yang merasa sakit hati, karena tidak memperoleh kenaikan pangkat. Ia adalah saudara Ki Jongjo seorang kepercayaan Panembahan Yusuf.

Pada tengah malam buta, setelah pintu gerbang Pakuan dibukan dari dalam Ki Jongjo bersama pasukan khusus menyelinap ke dalam kota. Kisah itu mungkin benar atau hanya rekaan, namun cerita ini cukup menggambarkan, bahwa betapa kuatnya pertahanan Benteng Pakuan yang dibuat Sri Baduga, bahkan setelah ditinggalkan oleh rajanya selama 12 tahun, pasukan Banten dan Cirebon masih perlu menggunakan cara halus untuk menembusnya.

Nasib Pakuan beserta para penghuninya setelah dihancurkan oleh pasukan Banten dan Cirebon, tidak terkabarkan beritanya, termasuk dari naskah-naskah tua. Namun pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Sersan Scipio, pada tanggal 1 September 1687 menemukan sisa-sisa keraton tersebut, terutama tempat duduk yang ditinggikan (sitinggil) raja Pajajaran, masih dikerumuni dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau. Dari sinilah kemungkinan muncul mitos, bahwa prajurit Pajajaran berubah menjadi harimau.

Berakhirnya jaman Pajajaran (1482 – 1579), ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana dari Pakuan ke Surasowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.  Batu tersebut di boyong ke Banten karena tradisi politik mengharuskan demikian. Pertama, dengan dirampasnya Palangka tersebut, di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru. Kedua, dengan memiliki Palangka itu, Maulana Yusuf merupakan penerus kekuasaan Pajajaran yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja.

Tentang batu palangka dikisahkan di dalam Carita Parahiyangan, :

  • Sang Susuktunggal inyana nu nyieuna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji d i Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana Pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata.
  • (Sang Susuktunggal ialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana untuk Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati yaitu istana Sanghiyang Sri Ratu Dewata).

Kata Palangka secara umum berarti tempat duduk (pangcalikan). Bagi raja berarti Tahta. Dalam hal ini adalah Tahta Nobat, yaitu tempat duduk khusus yang hanya digunakan pada upacara penobatan. Di atas Palangka yang berada di Kabuyutan itulah seorang calon raja diberkati (diwastu) oleh pendeta tertinggi. Sesuai dengan tradisi, tahta itu terbuat dari batu dan digosok sehingga halus dan mengkilap. Batu Tahta seperti ini oleh penduduk biasanya disebut Batu Pangcalikan atau Batu Ranjang, bila dilengkapi dengan kaki seperti balai-balai biasa.

Palangka Sriman Sriwacana sendiri saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan Banten. Karena bentuknya yang mengkilap, orang Banten menyebutnya Watu Gigilang, yang berarti Batu yang mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

Berakhir di Pulasari

Pasca penghancuran Pakuan kemudian Panembahan Yusuf mengarahkan serangannya ke Pulasari. Prabu Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya yang setia berupaya melawan sekuat tenaga. Namun pada akhirnya Ragamulya Suryakancana bersama pengikut nya gugur di Pulasari. 

Sumber Bacaan :

  • Sejarah Bogor – bagian 1, Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor – 1983 – di copy dari pasundan.homestead.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s